Minggu, 21 Desember 2008

Fakta Laut Dalam (Deskripsi Ilmiah An-Nur:40)

(Sumber: OceanExplorer)

Dipublikasikan: Verin

Laut dalam (deep sea) adalah bagian dari laut yang sangat gelap. Hingga
saat ini, laut dalam masih merupakan misteri bagi manusia. Penelitian
di laut dalam sendiri hingga saat ini masih sangat terbatas. Beberapa
penelitian menarik yang baru-baru ini dilakukan oleh para peneliti
tentang laut dalam dapat dilihat di OceanExplorer.

Hal yang menarik, adalah ketika kita coba membuka Al-Quran surat An-Nur (surat ke-24) ayat 40, yang artinya:

atau seperti
gelap gulita di lautan dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya
ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih
bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat
melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh
Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun”.


Ada beberapa hal yang secara ilmiah menarik untuk dibahas yaitu:
1. mengenai gelap gulitanya lautan dalam,
2. ombak yang di atasnya ombak (pula),
3. gelap gulita yang tindih-bertindih,
4. apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya
5. barang siapa yang tiada diberi cahaya, tiadalah ia mempunyai cahaya sedikitpun.

Pada tulisan kali ini, bersumber dari fakta ilmiah yang ada, adapun poin 2 akan dibahas kemudian pada artikel yang lain.
Gelap gulitanya laut dalam (deep sea) telah diakui secara ilmiah
oleh para ilmuwan. Menurut para ilmuwan, air tidak hanya merubah warna
sinar matahari, tapi ia juga secara dramatis merubah intensitasnya
(kekuatannya). Di laut terbuka yang jernih, cahaya tampak (spektrum
cahaya yang bisa dilihat oleh mata manusia), berkurang 10 kali setiap
penambahan kedalaman 75 meter. Artinya, pada kedalaman 75 meter
terangnya cahaya hanya tinggal 10% dibanding di permukaan, dan pada
kedalaman 150 meter hanya tinggal 1% saja.

Kondisi cahaya akan mempengaruhi fungsi penglihatan manusia dan
ikan-ikanan. Mata manusia, sebagai contoh, berfungsi dengan baik pada
saat terang seperti siang hari hingga pada saat hanya terdapat bintang
di langit, dengan kisaran kira-kira sebesar 12 orde magnitudo dimana
setiap orde menyatakan 10 kali perbedaan. Jadi, secara teori, jika
intensitas cahaya di laut berkurang 10 kali setiap penambahan 75 meter,
maka mata manusia hanya akan mampu melihat hingga kedalaman 900 meter
saja. Sementara itu, mata ikan laut dalam diperkirakan dapat berfungsi
hingga kedalaman 1000 meter. Namun demikian, mata ikan memiliki
kemampuan adaptasi yang sangat baik dan barangkali 10 hingga 100 kali
lebih sensitif daripada mata manusia. Di kedalam lebih dari 1000 meter,
ada beberapa binatang yang memiliki fungsi penglihatan yang mampu
mendeteksi bioluminescence (emisi cahaya oleh organisme hidup).

Makhluk laut yang mampu membuat cahaya terdapat di mana-mana.
Bioluminescence sendiri merupakan hal yang lumrah karena ia memberikan
kemampuan untuk mempertahankan diri yang sangat berarti bagi binatang
yang bersangkutan. Di darat kita mengenal fenomena ini pada
kunang-kunang. Cahaya ini membantu binatang untuk mencari makanan,
menarik perhatian pasangannya dan mempertahankan diri dari serangan
pemangsanya.

Kesimpulannya:
1. Pengurangan intensitas cahaya 10 kali dengan penambahan
kedalaman 75 meter, menjadikan laut dalam adalah tempat yang gelap
gulita, selain itu pengurangan intensitas terhadap kedalaman ini
menjadikan laut dalam mengalami kegelapan yang berlapis-lapis
(tindih-bertindih).

2. Kedalaman laut rata-rata adalah 3795 meter, artinya mata manusia
sudah tidak akan sanggup untuk melihat apapun di laut dalam, karena
secara teori manusia hanya akan mampu melihat hingga kedalaman 900
meter saja. Hal ini yang dalam surat An-Nur diumpamakan sebagai tak
mampu melihat tangannya sendiri.

3. Fenomena bioluminescence menunjukkan bahwa para penghuni laut
dalam masih mampu untuk melakukan aktivitas sebagai makhluk hidup
meskipun ia tinggal di kondisi yang gelap gulita. Hal ini karena mereka
diberi kemampuan untuk membuat cahaya secara alamiah. Hal ini yang
dalam surat An-Nur digambarkan dengan kalimat: barang siapa yang tiada
diberi cahaya, tiadalah ia mempunyai cahaya sedikitpun. Artinya: barang
siapa yang diberi cahaya, maka ia akan mempunyai cahaya. Sepertinya ini
sebuah gaya bahasa yang sangat puitis dalam menggambarkan sesuatu.

Daftar Pustaka:
1. Quran Viewer versi 2.9, Jamal Al-Nasir, DivineIslam.com, 2002.
2. The Oceans, Ellen J. Prager, McGraw-Hill, 2000.
3. Deep Light, Edith Widde, Ocean Explorer, 2005.

Gambar di atas memberikan
ilustrasi dasar bagaimana cahaya dengan warna-warna yang berbeda
menembus air laut. Air akan menyerap warna-warna hangat seperti merah
dan jingga (cahaya dengan panjang gelombang yang panjang) dan
menghamburkan warna yang lebih dingin (cahaya dengan panjang gelombang
yang pendek). (Sumber: OceanExplorer)
-----------------------------------------------------------------------------------------------





Ombak yang di atasnya ombak Fakta Laut Dalam




Dalam bidang oseanografi, fenomena ombak yang di atasnya ombak dikenal
sebagai gelombang internal (internal wave). Fenomena ini juga ada dalam
bidang meteorologi, dimana gelombang menjalar pada lapisan antar muka
antara udara yang hangat dan dingin (lihat gambarnya di sini dan sini,
karena kedua bidang ilmu ini memang memiliki banyak kesamaan yaitu
sama-sama berkecimpung dengan fluida. Para ahli meteorologi lebih
banyak berkecimpung dengan fluida dalam bentuk gas yaitu atmosfer,
sedangkan para ahli oseanografi lebih banyak berkecimpung dengan fluida
dalam bentuk cair yaitu air laut.

Pembahasan mengenai gelombang dalam oseanografi secara umum dapat
dibagi menjadi 2 bagian yaitu gelombang permukaan dan gelombang
internal. Gelombang permukaan adalah fenomena yang akan kita temui
ketika mengamati permukaan air laut, dan biasa disebut sebagai ombak.
Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya ombak adalah hembusan
angin, disamping ada pula faktor lain seperti pasang surut laut yang
terjadi akibat adanya gaya tarik bulan dan matahari.

Sementara itu, gelombang internal terbentuk akibat adanya perbedaan
rapat massa atau densitas air laut dengan gaya pembangkit yang dapat
berasal dari angin, pasang surut atau bahkan gerakan kapal laut.
Densitas air laut dipengaruhi oleh tiga parameter yaitu salinitas,
temperatur dan tekanan (silahkan klik pada masing-masing parameter
tersebut untuk uraian yang lebih terperinci). Perbedaan densitas akan
mengakibatkan air laut menjadi berlapis-lapis, dimana air dengan
densitas yang lebih besar akan berada di bawah air dengan densitas yang
lebih kecil. Kondisi ini akan menyebabkan adanya lapisan antar muka
(interface) dimana jika terjadi gangguan dari luar (oleh gaya
pembangkit yang ada) akan timbul gelombang antar lapisan yang tidak
mempengaruhi gelombang di permukaan.

Gelombang internal ini tidak akan bisa kita lihat karena ia terjadi di
lapisan dalam, namun dapat dideteksi dengan cara melakukan pengamatan
atau pengukuran langsung piknoklin (lapisan dimana densitas air laut
berubah secara cepat terhadap kedalaman) atau termoklin (lapisan dimana
temperatur air laut berubah secara cepat terhadap kedalaman) dengan
menggunakan sensor-sensor pengukuran temperatur dan salinitas air laut,
kecepatan arus laut, atau peralatan akustik seperti sonar. Secara
visual, ia baru bisa dilihat jika kita melakukan percobaan di
laboratorium atau mengamatinya dari udara atau ruang angkasa dengan
menggunakan teknologi penginderaan jauh (remote sensing). Bagian
terakhir inilah yang perlu kita garis bawahi dan mendapatkan perhatian
lebih. Bagaimana sebuah fenomena alam yang dalam mengungkapkannya
diperlukan teknologi yang canggih, sudah tertulis secara jelas dan
eksplisit dalam Al-Quran sebelum teknologi itu ada.
Agusset.worldpress.com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar